Sabtu, 17 Juli 2010

Bertugas dengan hati, dampingi napi hingga ekskusi


(myfather)

Dokter-Dokter yang Bertugas di Penjara


Tidak banyak dokter yang bersedia bertugas di dalam penjara. Di antara yang tidak banyak itu, ada beberapa dokter yang dianggap sebagai ikon bagi para narapidana. Berikut kisah-kisahnya.

---

PENAMPILANNYA tenang. Suaranya kalem, tapi berwibawa. Dia juga ramah kepada siapa saja. Itulah sekilas gambaran sosok dr Hardjo Santoso. Dokter berusia 41 tahun tersebut sudah sepuluh tahun mengabdi di Lapas Porong.

Dia hafal betul karakter tahanan di sana. Dirinya juga tahu cara menghadapi mereka. Dia sadar, menjadi dokter di Lapas Porong harus memiliki mental kuat. Sebab, setiap hari dirinya berhadapan dengan para pelaku kriminal yang tergolong kasus-kasus berat.

Dokter Hardjo, begitu dia biasa disapa, juga mendampingi para narapidana yang divonis mati hingga saat eksekusi tiba. Dokter asal Krian, Sidoarjo, itu tidak sekadar menangani napi dengan penyakit biasa. Dia juga menangani napi yang memiliki penyakit berat dan gila.

Menurut Hardjo, di blok khusus rawat inap memang ada penghuni yang dianggap permanen. Mereka adalah tahanan yang memiliki gangguan jiwa dengan vonis hukuman mati. Salah satunya adalah Susdianto alias Sugik yang dikenal sebagai jagal Jojoran.

Sugik divonis mati setelah menghabisi nyawa satu keluarga di Jojoran pada 1995. Yakni, Sukardjo, istri, dan dua anaknya. Sugik mengubur seluruh korban itu di dalam rumah Sukardjo. Untuk menghilangkan jejak, bekas lubang tersebut ditutup semen.

Di dalam tahanan, menurut Hardjo, Sugik adalah pasien yang sangat spesial. Kesehatan Sugik diperhatikan secara khusus oleh pihak medis di Lapas Kelas 1 Surabaya itu. Sebab, kondisi kejiwaannya amat terguncang. ''Karena itu, banyak tingkah polahnya yang tidak wajar,'' papar suami Sri Ajeng Suryandari tersebut.

Jika Sugik lama tidak dijenguk keluarga, Hardjo sangat hafal yang akan terjadi selanjutnya. ''Jika sudah kangen keluarga, pasti dia berbuat sesuatu di luar kewajaran,'' ungkapnya. Misalnya, membakar pakaian, seprai, dan kasur milik lapas. ''Sudah habis lima kasur dia bakar. Kalau baju, malah tidak terhitung lagi,'' ujar Hardjo.

Meski demikian, tingkah laku itulah yang membuat Hardjo merasa semakin memiliki ikatan batin dengan Sugik. ''Ya kalau dia lama tidak dijenguk, saya ajak dia bincang-bincang agar tidak mengalami tekanan mental,'' ucapnya.

Bukan hanya Sugik yang menjadi pasien spesial Hardjo, ada pula Agus dan Arif (keduanya nama samaran) yang sering diajak bersenda gurau. Keduanya juga mengalami gangguan jiwa dan divonis hukuman 20 tahun penjara karena kasus pembunuhan.

Menurut Hardjo, Agus cenderung pendiam. Meski begitu, tidak sulit bagi Hardjo untuk melakukan pendekatan dengan cara mengajaknya duduk santai sambil ngobrol ringan. ''Nanti kalau ada masalah, dia pasti curhat sendiri," jelas Hardjo.

Perilaku tersebut hampir sama dengan Arif. Bedanya, Arif memiliki karakter yang khas karena dia lama hidup di pedalaman hutan. Karena itu, wajar jika Arif terbiasa dengan lingkungan alam yang nyaman. ''Dia sangat suka berkebun," ucapnya.

Arif seakan memiliki lahan tanaman yang ditanam dan dirawat sendiri. Biasanya, dia menanam cabai atau pepaya. Arif juga sangat perhatian pada perkembangan seluruh tanamannya. ''Bahkan, dia menghitung jumlah buah cabai yang akan dipanen," terang alumnus SMAN 1 Krian itu.

Tapi, jika buah dari salah satu tanaman tersebut jatuh atau diambil tahanan lain tanpa izin, Arif langsung ngambek. ''Bisa dipastikan, tanah dan tanaman tersebut bakal dia obrak-abrik," terangnya.

Hardjo lantas berinisatif mendekati Arif. Setelah diajak berbincang dari hati ke hati, Arif akhirnya mengakui permasalahan yang dialami. ''Dia tidak suka jika ada orang yang memetik buah sebelum matang. Jika sudah matang, pasti dia akan membagi semuanya," tambah pria yang pernah menjadi dokter muda di Puskesmas Snori, Tuban, itu.

Bekerja di balik jeruji bukannya tanpa masalah. Satu masalah selesai, muncul masalah baru. Di antaranya, tugas baru untuk menjauhkan para napi dari zat adiktif yang didapatkan dari jamur misceline atau jamur yang biasanya tumbuh pada kotoran hewan.

Jamur yang tumbuh liar di sekitar lapas itu menjadi obat untuk meningkatkan halusinogen bagi napi. Biasanya jamur tersebut dimasak setengah matang, lalu dimakan ramai-ramai dalam satu blok tahanan. Efeknya, satu blok yang berisi lebih dari 50 orang itu nge-fly.

Setelah ulah napi itu dipergoki, Hardjo langsung mengevaluasi. Mereka sudah hampir kehabisan akal untuk bisa menjauhkan dan menghilangkan jamur tersebut dari napi, tapi tetap gagal. ''Sebab, jamur tersebut terus tumbuh,'' tandasnya.

Salah satu upaya yang dia terapkan adalah bekerja bakti masal, khusus untuk membersihkan jamur kotoran hewan tersebut. Sayangnya, jamur yang tumbuh di tanah gambut itu muncul kembali.

Ternyata, bukan hanya jamur yang mereka gunakan untuk berhalusinasi. Beberapa kali Hardjo menemukan penyalahgunaan obat di lapas. Padahal, obat yang diberikan kepada pasien sudah dianggap tepat sasaran. ''Tapi yang menerima obat malah tidak berkenan meminumnya,'' tuturnya.

Lalu, ke mana? Hardjo menyatakan, banyak napi yang berpura-pura sakit dan masuk dalam poliklinik dengan maksud periksa kesehatan. Jika diagnosis dokter memang benar sedang sakit, napi tersebut minta obat. ''Tapi, obatnya dijual,'' paparnya.

Napi yang sakit itu menjual obatnya untuk sekadar membeli rokok, makan, atau minum di kawasan lapas. Dia tidak peduli apakh penyakitnya tersebut sembuh atau tidak. ''Itu juga kami ketahui setelah obat tersebut terjual," terangnya.

(www.jawapos.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar